Teknologi & Kemanusiaan
Di wilayah bencana, akses komunikasi dan informasi membantu relawan, warga, dan berbagai lembaga bekerja bersama.

Aceh: memulihkan komunikasi setelah tsunami
Lima hari setelah tsunami 2004, saya tiba di Aceh bersama relawan Airputih, dengan dukungan APJII. Kami menumpang pesawat Hercules Australia, membawa VSAT dari PSN, RouterBOARD RB230 bantuan MikroTik, serta laptop.
Akses internet mulai dihidupkan di warnet Tabina. Kami membangun sambungan point-to-point ke kantor pemerintahan dan akses Wi-Fi di area pengungsian. Jaringan ini juga digunakan wartawan untuk mengirim berita, foto, dan video.
Dukungan berikutnya mencakup perangkat wireless pre-WiMAX dari Intel dan laptop dari HP untuk memperluas layanan internet darurat. Pengalaman ini kemudian saya bagikan pada MUM di Praha pada 2006.
Yogyakarta dan Bengkulu: mempercepat pendataan
Setelah gempa Yogyakarta pada 2006, saya membantu menyiapkan pendataan kerusakan bersama anggota Kopassus Grup 2 Kandang Menjangan. Pengumpulan dan pengiriman data membantu tim memahami kondisi wilayah terdampak.
Pada 2007, saya kembali mendukung pendataan pascagempa di Bengkulu bersama Kopassus. Tim membawa kendaraan CR-V bantuan Honda Prospek Motor yang sebelumnya digunakan dalam respons tsunami Aceh, dilengkapi peralatan untuk kerja lapangan.
Radio Tanggap Merapi
Pada erupsi Merapi 2010, saya bekerja bersama APJII, Postel, RRI, dan PRSSNI untuk mendirikan Radio Tanggap Merapi. Relawan Jaringan Radio Komunitas membantu sebagai penyiar.
Radio darurat ini mengudara melalui FM selama sekitar satu bulan, menyampaikan informasi, meluruskan kabar yang keliru, dan menemani warga di pengungsian. Teknologi yang dipilih mengikuti kebutuhan dan kondisi masyarakat yang dilayani.
Jelajahi bagian Profil
Percakapan yang menjadi kolaborasi.
Untuk undangan berbicara, pendidikan, dan kerja sama teknologi, hubungi saya melalui media sosial.